Sabtu, 07 April 2018

Berkisah Sepi Lewat Puisi



“Huruf-huruf membuat setiap kata mendapatkan kaki dan ladangnya.”
—Afrizal Malna


Perjalan diri menjadi perjalanan puisi. Kesepian tak selalu mengajak diri berakhir dengan tangisan, kegalauan, maupun curhatan di media sosial. Kesepian bisa berakhir dengan puisi. Laku berdamai dengan sepi diikhtiarkan Citra Pertiwi Amru (CPA) dan barangkali berhasil dengan terbitnya antologi puisi Kisah Kelana (Penerbit Mlaku: 2018). Buku setipis 50 halaman berisi 29 puisi yang berkisah perjalanan diri. Buku diterbitkan dan dipersembahkan untuk guru bahasanya yang diakhiri kalimat keraguan: apa ia mau menerima?

Hidup adalah perjalanan kata. Barangkali begitu suguhan pengantar dari Uun Nurcahyanti, “Perjalanan sepi bersaut kata dan tanda baca, lantas melahirkan puisi. Puisi menjadi titian penting pencatatan ulang sepi yang terbangun di mazhab keriuhan.” Tulisan juga menjadi peringatan bahwa buku ini berkisah perjalanan sepi. Membaca Kisah Kelana berarti membaca kisah perjalanan manusia kesepian, melawan sepi, dan berdamai dengan sepi.

Perjalanan Sepi
Perenungan tentang sepi dimulai oleh jeda diri. Setelah sekian kesibukan dalam sebuah rutinitas, CPA berkesempatan istirahat; memberi jeda untuk membaca diri. Kita simak cuplikan puisi pembuka “Kecupan Juang”: Gunungan kesibukan menunggui/ di awal pagi/ kau dan aku tenggelam dalam gunungan kesibukan/ hingga mereka lupa kembali pada nurani/ inilah kesibukan melingkari manusia-manusia sekarang/. Rutinitas menjadi kesibukan yang melingkar dan sekian banyak manusia tenggelam dalam putaran rutinitas, termasuk CPA. Keinsyafan menuntunnya pada pembacaan diri. Membaca diri barangkali tak semudah mengeja buku. Tubuh menyimpan kitab sejarah. Membaca diri tak bisa dengan sekedar niat, melainkan butuh perjuangan. Puisi ditutup bait kesadaran jalan juang: …kisah–kisah nenek moyang tidur dalam singgahsananya/ Menunggu kecup manis seorang juang/.

Sampul depan bergambar Prabu Arjuna (koleksi Universitas Leiden, Belanda)


Kembali pada diri berarti kembali mempertanyaan hal-hal ke-diri-an. Dalam puisi berjudul “Tubuh Sepi”, penyair menyajikan pertanyaan sepeleh namun serius: Siapa aku?/ Siapa aku?/ Jangan-jangan aku hanya roh meminjam tubuh sesiapa?/ Jangan-jangan aku merasai sepi karena tak tahu diriku siapa?/ . Kesepian tak melulu berkisah tentang kesendirian dari pasangan ataupun kekasih. Sepi bisa berarti asing dengan diri sendiri. Menjawab pertanyaan siapa dalam imajinasi memang tak semudah menjawab siapa dalam buku-buku sekolah seperti Lembar Kerja Siswa (LKS). Waktu semalaman belum tentu cukup untuk menjawab pertanyaan sepeleh itu. Di bait akhir, CPA berkisah kegagalan menjawabnya: Malam menelanjangi waktu yang kupunya/ mampuslah aku berperang dengan sepi/ aku benar-benar tak mengenal siapa aku/ aku dan tubuhku belum saling mengenal/ aku ini siapa?/ aku mau kemana?/. Pertarungan melawan sepi menambah kegelisahan diri, memperkeras suara tanya tentang siapa aku. Pertanyaan tak terjawab dan justru bertambah luas; aku mau kemana?
 
Di puncak segala putus asa, manusia seringkali bertemu pasrah. Pamrih menjawab pertanyaan diri yang gagal, melemaskan diri dan bahasa. Dalam puisi yang judulnya dipakai judul buku ini; Kisah Kelana, penyair mengabarkan kepasrahan di bait penutup: Biarlah aku papa ditikam sepi/ supaya kelak sawahmu tak lagi/ menahan tangis/ dan rumah menjadi tempatmu pulang/ sehabis kelana/. Penyair mengalah dan memilih berumah pada sepi. Barangkali di waktu yang sama, CPA menyudahi peperangan anatar diri dan sepi. Damai!

Menjawab Siapa Aku
Pasrah bisa jadi jalan kebersyukuran di mana Tuhan berjanji memberi kejutan tambahan nikmat. Dalam falsafah Jawa kita mengenal kalimat nerimo ing pandum (menerima dengan lapang dada pembagian Tuhan). Kepasrahan CPA, barangkali menjadi penyebab ia dibanjiri jawaban atas “Siapa aku?”. Tafsir-tafsir keakuan dihadirkan. Kita simak cuplikan puisi setelah Kisah Kelana dengan judul Bilangan Monyet: Mereka bilang saya monyet/ karena pandai bersyukur/ bukan itu/ sekali lagi bukan/ bukan karena bersyukur tetapi terlalu/ puas akan setitik paham/. Sepuluh hari setelah kepasrahannya, Kisah Kelana ditanggali 9 Maret 2017 dan Bilangan Monyet ditanggali 19 Maret 2017, penyair mengaku mendapati setitik paham walau bernada getir: Mereka bilang saya monyet. CPA menjawab “Siapa aku?” dengan dari diri lain: kata mereka.

            Sedikit demi sedikit, penyair mendapati jawaban jati dirinya. Tentu saja versi hati nuraninya. Kisah kelahirannya diceritakan di puisi “Malammu”: Aku lahir dari 26 huruf/ terangkai menjadi kata/ entah jelmaanku menjadi frasa, kalimat/ atau paragraf/ bahkan nanti aku menjelma/menjadi puisi untukmu/. Jalan sepi yang dilaluinya berbekal bahasa menjadikannya merasa terlahir sebagi huruf, frasa, kalimat, paragraf, juga puisi. Komponen bahasa dari yang paling sederhana berkembang dalam gabungan-gabungan. Ia yang awalnya huruf, menjadi kata. Ia masih berpikir menjadi kata dan entah nantinya bakal menjadi frase, kalimat ataupun doa seperti yang dituliskannya dalam puisi Iqro’: Huruf-huruf yang berhimpitan menulis/ rangkaian doa/ doa orang yang bebas dari pikirannya/ doa orang yang terbelenggu dari/ pikirannya/ jari-jariku turut mengaminkan beberapa/ bait-bait doa/.

Puisi tiba-tiba bergelimang doa. Kita tidak perlu membenarsalahkan jawaban penyair atas pertanyaannya sendiri. Kita pun sangat boleh mengamini doa-doa yang dipanjatkan Citra Pertiwi Amru dalam puisinya, terlepas apapun maksud hatinya. Amin.


Senin, 02 April 2018

Toilet



Kamar mandi menjadi rumah kecil di dalam rumah. Kita bisa me-masuk-keluar-inya lebih dari tiga kali dalam sehari. Mandi, buang air kecil atau air yang lebih besar dari kecil, atau pula sekadar membasuh muka menjadi rutinitas laku di dalam rumah kecil kita. Kamar mandi menjadi ruang penting di dalam rumah. Seberapa penting kamar mandi, dijelaskan pepatah yang ditulisingatkan Seno Gumira Ajidarma (SGA) dalam Kentut Kosmopolitan (Penerbit Koekoesan: 2008: 128), “Pepatah kuno, jangan menilai pemilik rumah dari ruang tamunya, tetapi dari kamar mandi dan WC-nya,…” Wah, pepatah yang sangar. Ruang kamar mandi menjadi penentu penilaian orang pada pemiliknya. Kamar mandi, istimewah dan penting!

Kita bisa tidur di tenda, mobil, bus, emperan toko, dsb. tetapi apa kita bisa buang air kecil ataupun besar di sembarang tempat? Sebagian kita, bisa. Sebagian lainnya, tidak. Harus di ruang tertutup yang aman dari mata-mata genit yang tertarik dengan bentuk-bentuk bokong. Ruang sepi di mana kita bisa khusyuk menunaikan ibadah buang hajat. Urusan di dalam kamar mandi, mesti diselesaikan sendiri. Begitu kira-kira cuplikan peringatan penyair kita, Joko Pinurbo (Baju Bulan, 2013), Antar Aku ke Kamar Mandi: maka kuantar kau ziarah ke kamar mandi/ dengan tubuh tercantik yang masih kaumiliki// kau menunggu di luar saja// ada yang harus kuselesaikan sendiri/.

Frase buang hajat sebenarnya agak aduhai. Buang ya buang, hajat ya kebutuhan. Lantas, membuang kebutuhan? Atau kebutuhan membuang? Tetapi tulisan ini tidak dihadirkan untuk memperkarakan bahasa, seperti biasanya. Aku ingin berbagi perkaraku dengan toilet yang tak lain prihal modelnya. Modernitas mengajak memodernisasi segala hal dari yang besar dan pelik sampai yang sederhana dan sepeleh. Cara beribadah di dalam kamar mandi kita pun diurusi modernitas dari yang Buang Air Besar (BAB) sembari jongkok, kini diajak berganti duduk. Aku tak mau! Di dalam kamar mandi dengan toilet duduk pun aku masih nekad berjongkok. Sekalipun hal itu masuk kategori dholim, tidak meletakkan sesuai tempatnya di mana desain toilet duduk sangat halus dan diperuntukkan untuk pantat tetapi kupakai untuk kaki, aku sulit bertaubat dari kedholiman itu. Maha suci Tuhan pemilik segala toilet.

beribadah eek dan ikrok (sumber: brilio.com)


Di kampusku, cara mengetahui mana bangunan lama dan mana bangunan baru—jika sama-sama diperbarui catnya—adalah melihat isi kamar mandinya. Toilet jongkok berarti bangunan lama dan toilet duduk berarti bangunan baru. Begitu. Tapi… ini hanya cara imajinatif, belum dilakukan penelitian dengan sekian validasi. Pasangan dari toilet duduk adalah tempat kencing berdiri, dan aku belum bisa sampai sekarang. Jadi, kalau buang air kecil, aku lebih memilih masuk toilet. Toh tidak ada himbauan: ruang khusus buang air besar, jika airnya ternyata kecil, maka dikenakan denda. Kalau itu terjadi, mungkin kutambahkan pertanyaan di bawahnya: seberapa besar yang tidak terdenda dan seberapa kecil yang terdenda?. Dan pernyataan protes: jika tidak ada ukuran yang akurat, aku bebas keluar-masuk loh!

Awalnya kupikir aku saja yang tidak bisa menuruti kemauan toilet duduk. Setelah mengobrol dengan kawan, kekasih, saudara, ternyata beberapa dari mereka juga sama; tak suka toilet duduk. Ada yang memilih menghindarinya, ada pula yang sepertiku memakainya dengan berjongkok. Maaf toilet, ini fakta, kau mesti lapang dada menerima kaki walau yang kau harap adalah bokong terlebih yang semok. Aku legah. Bagaimana pun kegagalan berhajat dengan duduk jika terjadi padaku saja, bisa disebut sebuah kelainan. Menjadi semakin legah setelah membaca kumpulan puisi berjudul Mbeling (Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia: 2004) garapan Apo Manampiring atau Diano Nimkan atau Unggal Walangati atau S.A. Atmodirono atau Juliana C. Panda atau Dova Zila atau Alif Danya Munsyi atau Yapi Tambayong atau Remy Sylado. Penyair dengan nama samara sangat banyak tersebut memang terkenal mbeling. Kita simak cuplikan puisi yang semakin melegahkanku dengan judul Ciri-ciri Orang Indonesia: di semua toilet bandara internasional/ orang-orang Barat duduk dan kelihatan kakinya/ orang-orang Indonesia tak kelihatan kakinya/ berjongkok di atas cuma melepaskan sepatu/.
 
Puisi digubah tahun 1982. Duh, ternyata jongkok dan duduk di dalam toilet, berpengaruh pada kecirikhasan Indonesia di masa Orde Baru. Apakah masih berlaku? Entahlah. Andai saja puisi digubah di tahun ini, mungkin toilet kampusku kuberi sekalimat peringatan: Berhajat sambil jongkok adalah bukti sikap nasionalisme kita, Bung!

Jumat, 30 Maret 2018

Berdesa dan Berkisah




suwung pamrih, suwung ajrih, namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggakaken datheng Gusti
—Raden Mas Sosrokartono


Segala selain Tuhan, barangkali berhak merayakan ulang tahun. Hidup harus penuh perayaan. Tidak! Hidup mesti penuh selamatan, agar selamat. Desa, kampung, atau apa sebutannya di mana saja, seringkali diselamati. Selamatan tidak diartikan sempit sebagai ucapan selamat: Selamat ulang tahun, Desa. Semoga kau panjang umur, meski kau tak semakin subur. Tidak begitu. Di kampungku, selamatan desa diisi dengan serangkaian acara religius. Mulai khataman alqur’an di pesarehan (baca: makam), sampai pengajian umum di tempat ibadah umum alias masjid.

Selamatan desa dibarengi haul tokoh masyarakat, perintis atau penyebar Islam di desa. Pengajian juga dikaitkan dengan peringatan peristiwa penting yang menyebabkan Nabi Muhammad panen sumpah serapah; Isra’ Mikraj. Pengajian menjadi tematik. Kiyai yang memberi kajian berasal dari Malang, pengasuh pondok pesantren Sabilurrosyad atau yang lebih dikenal dengan sebuatan pesantren Gasek karena terletak di desa Gasek, Karangbesuki, Sukun, Malang. Kiyai Marzuqi Mustamar, cukup kondang sebagai tokoh Nahdatul Ulama. Pas! Di masjid kampungku, di halaman paling depan diberi monumen Nahdatul Ulama (NU) lengkap beserta logonya. Kampungku atau desaku, adalah NU. Ah tidak juga, ada sebagian kecil yang berfaham Muhamadiyah dan barangkali selainnya pula.

Kiyai Marzuqi Mustamar (Sumber gambar: Arrahma.co.id)

Wajah dan suara Yai Marzuqi, membawa ingatan saat pertama merantau ke Malang. Aku menyantri di sana selama kurang lebih satu tahun. Pengajian beliau sangat NU nasionalis. Hampir di setiap pengajian, selalu terselip semboyan juang: NKRI harga mati. Aku suka! Berjamurnya faham liberal dan radikal di Nusantara, menjadikan beliau ketat mengawal umat khususnya warga Nahdiyin agar tidak terseret pada doktrin-doktrin yang lengket seperti permen karet atau pertanyaan-pertanyaan yang menjebak iman. Wah, gawat! Demi menjaga tradisi NU yang telah diperjuangkan Kiyai-Kiyai NU yang sangat selektif dalam akulturasi diri dengan budaya dan syariat, beliau menerbitkan buku berjudul agak panjang: Dalil-dalil Praktis Amaliah Nahdliyah (Ayat dan Hadist Pilihan Seputar Amaliah Warga NU). Buku setebal 229 itu diadakan Penerbit Muara Progresif di tahun 2014. Oh, aku jadi ingat, tahun itu masih nyantri dan tinggal di pesantren Gasek.

Kita kutip sekalimat dalam Mukaddimah atau pengantar buku: “Keraguan dalam agama adalah musibah terbesar dalam hidup.” Wah beragama harus penuh keyakinan. Tidak boleh setengah-setengah. Aku jadi teringat kalimat Multatuli dalam Max Haveelar (Penerbit Qanita:2014), “Setengah-setengah itu tidak baik. Setengah benar sama saja tidak benar.” Juga, kalimat dari Salman Rusdhie (Ayat-ayat Setan, 1997:24) dalam mendefinisikan alqur’an secara sastrawi dan penuh imaji, “Al-Qur’an, buku ketidakpercayaan. Terlalu final, pasti, tertutup. Pada dirinya sendiri itu adalah suatu keyakinan keragu-raguan.” Loh Salman, loh Rusdhie, kamu kok pakai frase “keyakinan keragu-raguan”. Kalimatmu yang definitif, terlalu paradoks!

Kembali pada acara Ruwah Deso saja, Kiyai Marzuqi menegaskan bahwa jangan sampai terulang perang saudara. Ada banyak kelompok, sedang berperan sebagai Sengkuni dan kelompok lainnya berperan sebagai Durna. Aduh! Akhirnya jama’ah pengajian dibekali dongeng, kisah, cerita laku Rasulullah yang diamalkan warga Nahdiyin sampai sekarang seperti qunut, takziyah, selamatan, dsb. Jama’ah juga sempat dibuat takjub saat dituntun Kiyai Marzuqi dalam pemanjatan doa menghentikan hujan yang tiba-tiba turun lebat. Sekejab, hujan mereda dan berhenti.

Begitulah. Pengajian bertema Isra’ Mikraj tak melulu berkisah perjalan Nabi dan Buroq. Barangkali sudah terlalu banyak yang hafal detail kisahnya, walau mungkin tak semuanya mengimani peristiwa itu sebagaimana Khadija mengimaninya. Perjalanan “hiburan” setelah duka ditinggal orang tercinta, membuat orang-orang meragukan kewarasan Rasulullah, kecuali Khadijah. Bahkan, dalam karya Salman Rushdie yang sudah tersebut, Rasulullah sendiri pun merasa gila, “Ketika ia pikir ia gila, wanita itu satu-satunya yang percaya pada penglihatannya. Itu adalah malaikat pelindung, ia berkata kepadanya ‘bukan, suatu bayangan yang keluar dari kepalamu. Itu adalah Jibril dan engkau adalah Rasul Allah’.”

Walah, imajinasi dan bahasa Salman Rusdhie memang berat. Barangkali manusia semacam Dilan saja yang kuat. Kita, yang tak kuat, bersandar pada tulisan Kartini (surat 28 Juli 1902, untuk Nyonya Abendanon) saja, “Setiap hari, yang harus kita panjatkan kepada Tuhan adalah doa, semoga kita tetap dikaruniai kekuatan!” —Amin.

Rabu, 28 Maret 2018

KEHADIRAN PRESIDEN JOKOWI DI UNISMA





“…setidaknya tubuh Jokowi mampu menghadirkan harapan yang kita tunggu bersama.”
Muhammad Milkhan  (Ora Weruh, 2015: 225)


Datangnya Presiden di sebuah kampus bisa jadi pertanda datangnya hari libur. Perkuliahan diistirahatkan. Kampus disterilkan. Jika beruntung, bakal dipersilahkan menghadiri acara yang dihadiri orang nomor satu di sebuah negara. Beberapa hari lalu, di lingkungan kampus Universitas Islam Malang (Unisma) sudah terpasang spanduk penyambutan: Selamat datang Presiden Republik Indonesia Bpk. Joko Widodo di Universias Islam Malang Kamis 29 Maret 2018. Presiden diundang dalam peresmian Gedung Bundar Al Assyari dan Gedung Pusat Umar Bin Khattab sekaligus sebagai Keynote Speaker Stadium General.


Sumber gambar: www.beritaenam.com


Mahasiswa di Unisma terbilang beruntung, dipersilahkan mendaftarkan diri dengan kuota kursi yang melimpah dibanding kunjungan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla di dua tahun lalu (31/10/2015) dalam rangkah peresmian beberapa gedung yang mana kuota kursi sangat terbatas. Pada kesempatan itu, JK dinobatkan Unisma sebagai Bapak Perdamaian. Keren! Kali ini, mahasiswa Unisma bisa jadi lebih beruntung lagi jika Presiden kita, seperti biasa, memberikan kuis ke-Indonesia-an berhadiah sepeda. Apakah mahasiswa Unisma sudah belajar demi mendapat sepeda? Kita tidak mengurusi hal itu. Kita abaikan saja, ya? 

Kita mengurusi tulisan Goenawan Muhammad tertanggal 25 April 1981 yang terkumpul bersama esai lain dalam Catatan Pinggir 1 (Penerbit Bentang: 1989) sahaja. Tulisan dengan judul “Kemanakah Para Tukang Batu Pergi?” ditegaskan sebagai sebuah kutipan dari kalimat Bertolt Brecht: Pada malam ketika tembok Tiongkok jadi, Ke manakah para tukang batu pergi?. Pertanyaan sama bisa kita ajukan dengan objek berbeda: Pada hari peresmian Gedung Bundar Assyari, ke manakah tukang dan kuli bangunan pergi? Jawaban bisa beragam ;ada di rumahnya masing-masing melihat televisi ;ada di tempat lain untuk membangun gedung lain ;ada di kasur dikarenakan kelelahan ;ada di tukang pijit masih proses pelemasan otot ;ada banyak lagi jawaban lain berdasarkan imajinasi kita. 

Apa mungkin mereka diundang hadir di acara peresmian gedung yang mereka bangun? Bisa jadi, tetapi aku ragu. Aku lebih membayangkan adegan seperti yang dijelaskan Goenawan Muhammad (1989: 134) “Para tukang batu itu hilang tak tercatat. Hanya raja-raja yang disebut. Sejarah memang sering kurang adil.” Kisah kerajaan, wah! Jangan-jangan kita telah berdosa karena ceroboh membandingkan tukang dan kulia bangunan yang dibayar dengan tukang batu kerajaan yang kemungkinan besar tak dibayar. Atau, kita berdosa karena menjadi manusia yang sangat materialis; menuhankan uang. 

Apakah memang segala bisa selesai dengan memberikan bayaran? Mari mengingat puisi penyair sederhana kita, Joko Pinurbo, tentang cerita menaiki ojek yang tak lain adalah guru sejarahnya dulu yang diabadikan dengan judul “Dengan Kata Lain” dalam buku Baju Bulan (Penerbit Gramedia: 2013). Alkisah setelah sampai di tujuan: Nyaman sekali rasanya diantar pulang Pak Guru/ sampai tak terasa ojek sudah berhenti di depan rumah// Ah, aku ingin kasih bayaran yang mengejutkan// Dasar sial/ Belum sempat kubuka dompet, beliau/ sudah lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja//. Pamrih memberikan bayaran banyak, gagal. Cerita berlanjut dengan hadirnya kalimat dari ayahnya yang sedang membaca koran di teras rumah dan barangkali menyadari kebingungan anaknya: Tak ada angin, tak ada hujan, Ayah tiba-tiba/ bangkit berdiri dan berseruh padaku, “Dengan kata lain-/ kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu”/. Barangkali Jokpin benar, tidak semua bisa dibayar dengan uang. Tapi… semisal tukang dan kuli bangunan kita tanya: Pilih mana dibayar dengan uang atau puisi? Kemungkinan besar, mereka memilih uang.

***
Wah, sampai lupa mengucapkan kalimat sambutan untuk Anda, Pak Jokowi: Selamat datang, semoga selalu dipayungi keberkahan. Saya izin tidak hadir sebab rumput di sawah sudah meninggi, saya mesti menangkasnya agar tak melebihi tinggi badan kacang hijau kami dan terkesan menanam rumput. Juga, agar kami memanen kepastian-kepastian bukan sekadar harapan-harapan.

Oh iya, Pak. Jika ada mahasiswa-mahasiswa menolak kedatangan Anda, mereka sebenarnya menolak sinau sejarah!

Selasa, 26 Desember 2017

KITA(B)



Sekian abad lalu, ada petani-petani miskin yang seringkali memanen kuburan untuk tetap bertahan hidup. Tentu saja, bukan di Indonesia melainkan di negeri yang penuh padang pasir; Mesir. Peradaban tua mewariskan barang-barang antik untuk dicari dan dimiliki. Lalu di suatu hari dalam sebuah gua kecil ditemukan jenazah yang terbalut kain kafan. Tak jauh darinya ada jenazah-jenazah yang kemungkinan keluarganya. Lalu:

Buku-buku berharga orang itu berada di sebelahnya, tertututp dalam sebuah kotak batukapur putih (hlm.2).

Salah satu buku di dalamnya ternyata sebuah Injil yang termasuk salah satu Injil Gereja Perdana dan paling provokatif; Injil Yudas. Buku menjadi representasi laku hidup jenzah tersebut. Mati harus bersama barang yang dicintai dan ia telah dikubur bersama buku-buku. Cerita di atas merupakan cuplikan dari kisah pencarian Injil Yudas oleh Herbert Krosney dalam The Lost Gospel (Gramedia: 2006). 

Di Jawa, tentu berbeda budaya. Beradab lalu, kita mengenal istilah moksa yang diyakini sebagai mati yang sempurna. Moksa secara sederhana dipahami sebagai pelenyapan diri dengan melebur bersama semesta. Tak heran, tokoh-tokoh sentral di masing-masing masanya hampir tak bisa dijumpai kuburannya. Mereka diyakini moksa dan jejak hidupnya hanya menyisakan petilasan-petilasan dan cerita-cerita. Petilasan menjadi artefak yang menegaskan bahwa di tanah ini keheningan, kesunyian, maupun kesuwungan pernah begitu penting dan menjadi babak wajib bagi tokoh-tokoh setiap generasi.

Menyendiri bukan berarti putus asa, galau, ketinggalan zaman, ataupun terlampau idealis. Lebih jauh dari semua itu, menyendiri adalah laku berpikir, berguru, dan mengobrol dengan diri sendiri. Oleh sebab itu, kitab-kitab di Jawa memang tak seharusnya tertulis. Manusia Jawa pernah dan mungkin masih memahami tubuhnya sebagai perpustakaan terlengkap yang berisi kitab-kitab dari generasi awal manusia bahkan sebelum penciptaan manusia sampai yang terakhir. Maka, kitab Manikmoyo jika dibuka berisi lembaran kosong bukan teori penciptaan semesta. Kalaupun ada aksara, adalah laku seorang manusia yang mencoba menuliskannya. Bukan murni isi kitab yang dimaksud. Lembaran kosong menjadi pintu masuk manusia untuk membacanya. Laku membaca menjadi laku memasuki ruang dan waktu yang berbeda.

sumber gambar: www.hewaitsadi.wrodpress.com


Hindu dan Buddha masing-masing memiliki laku berhening yakni Semedi dan Meditasi dalam persembahannya. Islam memiliki laku shalat tetapi khusus untuk pencarian petunjuk maupun jawaban, Islam menganjurkan shalat Istikhoro (setelah shalat malam melakukan dzikir dalam hati sampai tertidur atau tak sadarkan diri) dan juga shalat Daim atau shalat nafas (menghirup “Hu” dan menghembuskan “Allah”). Sayangnya, muslim-muslim yang meyakini dirinya awam enggan mencoba berhening, mereka lebih suka meminta bantuan Kiyai untuk ber-istikhoro. Yang mungkin diusahakan hanyalah selembar amplop yang diisi rupiah. Lambat laun, mereka semakin meyakini dirinya awam yang tak mungkin bisa menemukan jawaban pada istikhoro-nya. Batasan-batasan yang melilit keyakinannya menjauhkan mereka dari Tuhan dan dirinya sendiri. Ia lebih memilih tawasul daripada ikhtiyar dengan dalih tawasul adalah ikhtiyar-nya.

Seperti juga saat mereka membaca kitab, mereka takkan berani memahaminya sepenuh hati. Mereka memilih memahami pemahaman orang lain yang terlebih dulu darinya. H.B. Jassin pernah menggegerkan semesta Nusantara dengan menerjemahkan Alqur’an dengan judul Bacaan Yang Mulia. Jassin menganggap bahwa Alqur’an adalah karya sastra yang agung dan semestinya diterjemahkan secara sastrawi. Maka, Alqur’anul Karim diartikan dengan sederhana menjadi Bacaan Yang Mulia. Akhirnya, Jassin panen kritikan dan sumpah serapah. 

Sekian tahun setelah Jassin, kita mendengar damai syi’ir yang diyakini sebagai karangan seorang Kiyai kharismatik dengan panggilan Gus Dur. Sepenggal syi’ir berbunyi: alqur’an qodim wahyu minulyo/ tanpa ditulis biso diwoco/ iku wejangan guru waskito/ den tancepake ing jero dodo. Dua baris pertama secara sederhana dipahami sebagai definisi alqur’an yang merupakan wahyu mulia bahkan tanpa ditulis pun bisa terbaca. Kata “iku (itu)” pada baris berikutnya bisa dipahami merujuk pada “alqur’an” ataupun keseluruhan kalimat sebelumnya. Jika dirujukkan pada Alqur’an maka dua baris berikutnya adalah definisi lanjutan: alqur’an adalah wejangan guru waskito atau guru sejati (Gusti) yang menancap di dalam dada. Menancap memberi makna “dalam” dan “di dalam dada” lebih bisa dipahami sebagai representasi benda bernama hati. Artinya, alqur’an adalah wahyu dari Gusti yang berada di kedalaman hati dan mungkin menunggu pembaca datang.

Kenapa harus di hati? Kenapa begitu dekat dengan diri sendiri? Wah kita jadi ingat filsuf termasyhur dari Aceh bernama Hamzah Fansury yang mencari Tuhan sampai ke Makkah dan ternyata bertemu di dalam rumah. Kisah diabadikannya dalam sajak Mencari Tuhan di Baytul Ka’bah dan cuplikan sajaknya bercerita: Hamzah Fansury di dalam Mekkah/ mencapai Tuhan di Baitul Ka'bah/ dari Barus terlalu payah/ akhirnya dijumpa di dalam rumah.

Ah, tulisan terlalu berbelit padahal bisa dirangkum dalam satu kalimat tanya:
Sudahkah kita membaca kita(b)?