Kamis, 03 November 2016

ALQUR’AN; BACAAN BUKAN CENDERAMATA PAJANGAN


Saya mengagumi segala kitab suci yang tentunya sangat sastrawi. Terutama yang paling saya kenal di antara beberapa kitab suci adalah Alqur’an. Sejak lahir saya sudah diyakini dan diyakinkan beragama Islam dengan kitab suci bernama Alqur’an. Saya masih sangat ingat betul, di kala kecil setiap selesai magrib saya mesti ke sebuah pondokan untuk melakukan ritual ngaji. Mulai dari pelajarn Kiroati sampai Alqur’an. Kiroati adalah kajian tentang cara mengeja alqur’an; mengenal huruf hijaiyah, harakat, dsb. sedangkan alqur’an adalah kajian tentang cara membacanya; mempelajari ilmu tajwid. Oleh karenanya, kampungku seolah mempunyai hukum bahwa tidak diperkenankan setelah magrib ada TV yang menyala. Saat itu kira-kira tahun 2000-an. Saya mengenal alqur’an sebagai suatu kitab yang sangat sangat sangat dimuliakan. Memegangnya saja, kami mesti melakukan ritual wudhu, lalu harus duduk bersila dan tidak diperkenankan membaca sambil tiduran dsb. dst.

Pendefinisian Alqur’an
Alqur’an diyakini sekian juta bahkan miliar umat sebagai wahyu terbesar Nabi Muhammad SAW yang diturunkan secara berangsur (sesuai kebutuhan Nabi dan umat). Semua sepakat bahwa ayat pertama yang diturunkan adalah ikrok yang artinya bacalah. Alqur’an sendiri berarti bacaan yang tidak sembarang bacaan karena memakai alif dan lam sebagai idofah (spesifikasi). Maka, yang dimaksud Alqur’an adalah ayat-ayat (baca: bacaan) yang diturunkan sebagai wahyu Nabi Muhammad bukan bacaan lain yang meski diucapkan Nabi Muhammad. Jadi idofah (alif dan lam pada lafad alqur’an) memberikan spasi antara kalam yang diucapkan Nabi Muhammad sebagai alqur’an dan selainnya yang dikenal dengan sebutan hadist. Perlu saya sampaikan pula, bahwa alqur’an diyakini sebagai kalam Allah yang kemudian disampaikan Nabi Muhammad karenanya dikatakan sebagai kalam suci atau kitab suci. Bahkan sangat suci.
Dalam dunia perkuliahan, hal ini sering disinggung antara perdebatan dua golongan yakni Ahlusunna Waljamaah yang mengatakan bahwa alqur’an adalah kalam dan golongan Muktazilah yang mengatakan bahwa alqur’an adalah makhluk. Sebenarnya semua itu tak perlu diperdebatkan karena memang kacamata yang dipakai dua golongan itu berbeda. Ahlusunna melihat alquran dengan kacamata nahwu yakni mengutip ilmu dasar dalam kitab Imriti bahwasannya alkalamu huwa lafdzul murokabul mufidu bil wad’i (kalam adalah lafadz yang tersusun dan memberikan faedah secara sengaja). Sedang Muktazilah memakai kacamata tauhid bahwasannya yang dinamakan makhluk adalah selain Allah (almakhluku huwa maa siwallah). Jadi sebelum berdebat dan fanatik pada pendapat pribadi atau golongan, kita sebaiknya melihat segalanya termasuk konteks yang dibicarakan.
Alqur’an sangatlah unik bahwa membacanya saja kita sudah mendapat pahala. Tetapi kebanyakan orang melihat kalimat tersebut sebagai pegangan hidupnya dengan alqur’an, yakni cukup membacanya saja tak usah memahaminya karena barangkali itu tugas ustadz, kiyai, habib dsb. dst. sedang kita yang meyakini diri sebagai awam cukuplah membaca dan mencintainya agar mendapatkan syafaat (keyakinan orang Islam adalah alqur’an bisa memberikan syafaat atau keselamatan di hari kiamat nanti). Kegelishan semacam ini pernah dituliskan Kartini dalam suratnya bahwa ia tak mau jika hanya membaca alqur’an tanpa boleh memahaminya. Memang dari memahami itu bakal muncul yang namanya cinta. Lalu apakah mungkin kita bisa mencintai alqur’an tanpa memahami isinya? Manusia diberi akal sebagai bekal yang paling berharga dalam hidupnya. Seperti sifatnya, akal dikenal melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbeda karenanya Nabi Muhammad menyampaikan bahwa ikhtilafu ummati rohmatun (perbedaan umatku adalah rahmat). Bagi saya, hadist ini adalah ejawantah dari islam sebagai rohmatan lilalamin (rahmat seluruh alam). Maka, islam mengajarkan yang namanya toleransi. Ini searah dengan tugas nabi sebagai penyempurna akhlak. Nabi Muhammad memberikan teladan bagi seluruh umat dengan segala akhlaknya sperti cerita di mana saat Nabi Muhammad diludahi dan disakiti selalu membalasnya dengan doa dan doa. Itulah kesempurnaan akhlak. Barangkali mengalah adalah kemenangan sejati sebab dengan mengalah kita tidak pernah benar-benar kalah.

Realita Alqur’an
Hari ini, diprediksikan bakal ada jutaan muslim yang ke Jakarta menggelar demo membela alqur’an. Seperti yang kita ketahui bersama, Gubernur Jakarta yang akrab disapa Ahok tertuduh melakukan tindakan penistaan alqur’an yang membesar menjadi penistaan agama (baca: Islam). Pada paragraf awal, kita telah mendefinisikan alqur’an sebagai kitab suci yang berisi bacaan-bacaan. Dan perintah Allah yang pertama adalah ikrok (bacalah) bukan lainnya. Artinya, jika alqur’an diyakini sebagai kitab suci agama Islam, maka umat islamlah yang berkewajiban membacanya. Seharusnya, tingkat ketaqwaan Islam sendiri berpedoman pada perintah pertama Tuhannya. Barangkali ikrok itu perlu dijabarkan lagi. Ejawantah ikrok akan memberikan tingkatan-tingkatan seperti mislanya: 1) manusia yang hanya mambaca, 2) manusia yang membaca dan memahami, 3) manusia membaca dan memahami juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sekarang, kita mencoba mendefinisikan kata nista sebagai akar penistaan dan menistakan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia tahun 1976 yang disusun W.J.S. Poerwadarminta, nista adalah aib atau cela. Sedang menistakan berarti mengaibkan, mencela, mengumpat ataupun menghina. Maka, disimpulkan bahwa penistaan adalah penghinaan. Kita coba membuat simpulan anatara hubungan kata nista dengan alqur’an. Alqur’an sebagai bacaan apakah akan terhina/ ternista/ teraib dengan penafsiran? Bukankah laku menafsiri adalah laku memahami bacaan yang artinya kita tentu membaca dahulu sebelum menafsiri? Dan izinkan saya bertanya satu hal dan tolong jawablah sendiri dalam hati yang terdalam:
Siapa yang lebih menghina alqur’an sebagai kitab suci antara orang yang membaca dan menafsirinya meski salah atau orang yang tidak pernah membacanya sama sekali sedang alqur’an adalah bacaan-bacaan?
Saya sangat yakin hampir di setiap rumah yang keluarganya beragamakan Islam ada beberapa kitab suci alqur’an dan di hampir setiap masjid ada pula beberapa alqur’an bahkan puluhan. Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah apakah semua itu terbaca? Barangkali kita perlu menginsyafi bahwa ayat pertama Tuhan adalah perintah membaca dan barangkali agar alqur’an tidak sia-sia dalam artian akan terus ada sebagai bacaan yang membimbing manusia menjalani hidup. Aqur’an adalah bacaan bukan cenderamata dari Tuhan untuk sekedar pajangan kitab suci.
Apa yang sudah terjadi patut dipelajari (baca: dibaca) sebagai pengetahuan tambahan dengan mengambil hikmah-hikmahnya. Kepada Ahok, petama secara santun aku ucapkan terima kasih karena dengan perantara dirimu dipermasalahkan seperti sekarang ini, aku yakin ada jutaan manusia yang ngaji setidaknya satu ayat almaidah saja (ayat 51). Artinya, ada jutaan manusia yang menjalankan perintah pertama Tuhan yakni ikrok. Kedua, ambil hikmahnya dan jangan lagi membawa agama dalam dunia politik meskipun lawan-lawanmu membawa, sebab politik adalah dunia kotor dan agama adalah dunia suci tetapi terima kasih kau telah berlaku islami dengan membaca alqur’an, menafsiri dan meminta maaf atas tafsiran yang dipermasalahkan. Bagi saya, itu sudah sangat islami dan tak ada alasan untuk tidak memaafkanmu sekalipun bagi sebagian orang itu kesalahan yang fatal.
Aku rindu almarhum Gus Dur, yang suka sekali mengatakan “Gitu aja kok repot” sekalipun pada hal-hal yang dianggap serius. Dan saya yakin, kalimat Gus Dur itu juga tak kalah serius dibandingkan keseriusan manapun jika dibaca dan dipahami. Biar kutipan darinya yang mengakiri tulisan ini “Semua agama mengajarkan pesan damai tetapi kaum ekstrimis memutarbalikannya”.

SEMACAM ISLAMISASI SASTRA




Seperti biasa, saya ingin berbagi kegelisahan dalam sebuah tulisan. Hari ini saya mengikuti Kuliah Kesusastraan Bandingan XIX yang merupakan acara rutin tahunan Majelis Sastra Asia Tenggara (Masetra) dan kali ini bekerjasama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud juga Universitas Islam Malang (Unisma). Ada tiga pembicara yakni Prof. Dato’ Dr. Haji Hashim bin Awang (Pakar Sastra Bandingan Malaysia), Dr. M. Misbahul Amri (Pakar Sastra dan Dosen Universitas Negeri Malang) dan Dr. Ganjar Harimansyah (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Mastera Indonesia).
Pembicara pertama, Ganjar berbicara panjang lebar tentang Mastera semacam memperkenalkan diri (baca: Mastera) pada peserta kuliah. Mulai dari sejarah sampai program-program yang tentunya bermanfaat seperti pelatihan menulis puisi, novel, esai dst. dsb.
Sastra dan Agama
Pembicara kedua, Datok berbicara tentang sastra dan islam. Ia pun memberi peserta makalah yang berjudul Teori Pengkaedahan Melayu dan Prinsip Penerapannya. Judul sangat biasa dan akademis tetapi ketika membaca isinya, ada semacam islamisasi sastra khusunya sastra Melayu. Seolah-olah mengklaim bahwasannya sastra Melayu bernafaskan islam. Seperti yang tetrulis pada halaman kedua pada makalahnya:
“Kesusastraan Melayu membentuk dirinya dengan berdasarkan tiga teras utama yang amat keMelayuan dan keIslaman. Ketiga-tiga teras itu dapat disebutkan sebagai teras kebajikan, teras ketaqwaan dan teras ketatasusilaan. Ketiga-tiga teras ini menjiwai kesusastraan tersebut pada tahap paling asas dan asli, yang berdasarkan sepenuhnya kepada nilai dan aqidah agama Islam yang menjadi anutan pengarang dan masyarakat Melayu.”
Bagi saya, ada kerancuan bahasa yang mesti diperjelas terlebih dahulu sebelum berbicara jauh prihal sastra, Islam dan Melayu. Seperti, yang dimaksud sastra Melayu itu apakah karya sastra yang menggunakan bahasa Melayu atau semua karya sastra yang ditulis bangsa Melayu? Karena bakal ada perbedaan yang signifikan jika masing-masing dijabarkan. Kemudian, perlu pendalaman sejarah masuknya Islam pada bangsa Melayu karena dalam Jawa (yang termasuk wilayah bagian Nusantara atau Indonesia yang dikategorikan Melayu) menerima Islam pada abad kesekian sesudah berkembangnya agama Siwa, Siwa Buda, Hindu dan Budha. Dalam masa sebelum Islam datangpun, masyarakat Nusantara sudah bersastraria dengan pelbagai kitab, kidung, suluk, serat, dsb. Maka, bagi saya pribadi, kuliah kali ini terkesan terburu-buru menyimpulkan hubungan ketiga kata tersebut; sastra, Melayu dan Islam.
Kerancuan lainnya, tentunya bagi saya pribadi, adalah teori pengkaedahan yang mana dijelaskan ada dua teori yakni pengkaedahan alamiah dan agama. Pengkaedahan alamiah adalah pengkaedahan yang menyimpulkan bahwa alam adalah karya dan berisi tiga hal yakni pertama, gunaan  bahwa ada manfaat/ faedah menyediakan keperluan/ kemanfaatan, yang bercirikan tahu/ kenal/ sedar. Kedua, moral bahwa suatu kegiatan, pengalaman dan penghasilan yang boleh menambah/ memberi/ memperluaskan pengalaman serta pengetahuan, yang bercirikan teroka/ jelajah/ pandang jauh/ pengilmuan. Dan ketiga, firasat bahwa suatu kegiatan pengalaman yang mengandungi makna; terolah dengan cara yang khas; ada bentuk, indah dan metafora, yang bercirikan ta’kul/ menung/ fikir.
Sedang pengkaedahan agama yang menyimpulkan bahwa karya sastra Melayu adalah kegiatan yang berlandaskan kepada cara hidup beragama, tata cara dan tata tertib. Dalam pengkaedahan ini pun ada tiga bagian yakni dakwah, sosial/ masyarakat dan seni/ estetika. Pertama, dakwah  bahwa karya adalah alat memuliahkan/ mengagungkan Tuhan ‘Allah’ dan agama Islam, yang bercirikan unsur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan agama. Kedua, sosial/ masyarakat  bahwa karya adalah gamabaran hidup manusia bermasyarakat, yang bercirikan hubungan antara manusia dengan manusia, masyarakat, budaya, ekonomi, politik dan dunia luar. Ketiga, seni/ estetika bahwa karya adalah ciptaan yang berbentuk indah/ halus/ sempurna; ada sifat tersendiri, yang bercirikan hubungan antara karya dengan ciptaan-ciptaan Allah dalam alam.
Saya sebut kerancuan khususnya bagi saya pribadi karena kegagalan dalam memahami pembagian kaedah antara agama dan alam. Bagi saya, semua bagian dalam masing-masing kaedah sangat agamis yakni dalam kaedah agama misalnya, ciri bagian dakwah adalah ejawantah dari khablum minallah, sedang sosial/ masyarakt dan seni/ estetika adalah ejawantah dari khablum minannas (atau makhluk lainnya selain manusia karena dalam ilmu tauhid ada sebuah kalimat yang berbunyi almakhluk huwa maa siwallah yakni makhluk adalah selain Allah). Dalam kaedah alamiah, ada gunaan yang bercirikan kemanfaatan yang bagi saya adalah ejawantah dari syukur, moral yang tentu ejawantah dari akhlak (misi Nabi Muhammad) dan firasat yakni ejawantah dari tafakkur. Lalu berdasarkan apa pembagian teori pengkaedahan antara agama dan alamiah? Bagi saya pribadi ada semacam pemaksaan yang gagal dalam laku memandang sastra dengan teropong agama.
Kalaupun sastra dipandang dengan teropong agama, nanti bakal ada kerancuan nilai moralitas pada karya sastra. Misalnya pada cerita runtuhnya Majapahit, Raden Fatah tidak akan dikatakan sebagai anak durhaka meski menyerang ayahnya sendiri begitupun Raden Kian Santang yang menyerang Siliwangi. Keduanya bebas dari kata durhaka karena semua dilakukan atas nama agama. Itu jika dilihat dari teropong agama, padahal akan merusak makna durhaka secara umum yakni siapapun yang melawan orang tuanya.
Sastra dan Sejarah
Pembicara ketiga, berbicara prihal jati diri bangsa. Ia memberi peserta makalah dengan judul Kajian Sastra Bandingan: Mewujudkan Jati Diri Bangsa. Ada beberapa hal yang kusepakati dari apa yang disampaikan tetapi ada pula yang mesti kupertanyakan dulu sebelum menyepakatinya. Amri menyampaikan bahwa Jawa dan India punya cerita sendiri-sendiri seperti Mahabarata dengan bukti ada beberapa petilasan. Ada petilasan Puntodewo di Demak yang mana diceritakan Puntodewo mencari Sunan Kalijaga karena tidak akan mati sebelum menemukan yang namanya Kalimosodo. Lalu di Kediri ada petilasan Mayangkoro yakni nama lain Hanuman, dewa yang diagungkan di India.
Aku sepakat dengannya bahwa India dan Jawa punya cerita masing-masing. Selain bukti adanya petilasan adalah bukti sejarah yang mana diceritakan bahwa Jawa dan India dulu satu kepulauan yang masih bernamakan Jawa Dwipa (sekarang Jawa) dan Jambu Dwipa (sekarang India). Dalam cerita pun, Jawa lebih kaya karena adanya lakon tambahan seperti Semar dan Togog. Dan aku tidak sepakat karena Amri sendiri bagi saya terkesan ada unsur “islamisasi” dengan mengatakan Puntodewo tidak bisa mati tanpa Kalimosodo dan tidak mengatakan versi lainnya. Jika ingin berbicara petilasan, kenapa tidak mengkaji wilayah Kejawen yang akrab dengan laku bertapa. Di gunung Arjuno Pasuruan, malah ada banyak petilasan jika hanya ingin menegaskan pada cerita Mahabarata. Jika lewat jalur pendakian Purwosari, kita bakal menemui petilasan Ibu Kunti (ibu pandawa lima) di pos kedua bahkan lengkap dengan petilasan gurunya yakni Eyang Abiyoso. Di pos ketiga ada petilasan Eyang Semar dan di sekitar Sepilar atau pos terakhir ada sumber Widodaren yakni petilasan Arjuno yang diceritakan saat bertapa digoda bidadari dan sumber Derajat yang dekat dengan petilasan Bima.
Selain itu, secara tidak langsung pembicara menduga bahwa Salman Rushdie dalam novelnya Haroen and the Sea of Stories terinsipirasi alqur’an dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Lagi-lagi semacam ada pemaksaan menyambungkan agama dengan sastra. Sejauh saya memahami novel-novel Salman Rusdhie adalah dia memakai imajinasi anak-anak yang terkesan menuliskan cerita semaunya. Mislanya, ada tokoh yang kembar namanya, Tapi, Tappi, Tapipun dsb dalam novel yang disebutkan di atas. Di lain novelnya yang berjudul Luka, ia memainkan imajinasi kita dengan tokoh hewan yang satu adalah seekor anjing dengan nama Beruang dan seekor beruang dengan nama Anjing. Dalam Luka tanpa disadari ada isi yang seperti guyonan memperdebatkan anatara kematian dan ketiadaan. Bahwa ada manusia yang tidak ketemu kematian, ia ketemu ketiadaan. Dalam agama Islam, ini bisa dipaksakan sebagai ejawantah lafadz innalillahi wainna ilaihi rojiun. Dalam agama Hindu, ini bisa dikatakan sebagai ejawantah mokhsa. Dalam Kejawen bisa sebagai ejawantah Manunggaling Kawulo Gusti. Bahwasannya manusia kembali pada asalnya.
Maka, bagi saya pribadi, kita terlalu terburu-buru berbicara jauh tentang sastra, Melayu dan agama. Kita tidak berangkat dari pendefinisian untuk spesifikasi maksud perkata. Itu memang kebiasaan kita, berbicara dan berdebat tanpa pendefinisian ulang. Afrizal Malan pada bukunya Dalam Rahim Ibuku Tidak Ada Anjing mengakui bahwa saya memakai bahasa yang telah kehilangan akar budayanya. Kerja mencari akar kata bahasa pernah dilakukan Remy Sylado alias Alif Danyah Munsi alias Yapi Tambayong dan dibukukan dalam 9 dari 10 Bahasa Indonesia Adalah Asing.
Tetapi bagaimanapun, saya mesti ucapkan terima kasih pada para pembicara yang berbagi ilmu di kuliah kali ini. Saya sengaja tidak bertanya pada forum karena saya tidak berniat mengikuti kuliah juga memberikan kesempatan pada peserta yang jauh-jauh missal Ambon, Madura, Jakarta, dsb. Bagi saya, karya sastra bisa saja islami tetapi sampai kapanpun karya sastra tidak beragama.

Rabu, 26 Oktober 2016

UNTUK AKTIVIS UNISMA



SELEMBAR BANNER UNTUK KANTIN PARKIRAN
Tulisan ini semacam surat terbuka untuk teman-teman aktivis kampus Unisma, entah yang bergiat di UKM, LGM, DPM, Himaprodi, ataupun BSO. Dengan penuh hormat, aku minta selembar banner dan juga minta tolong berikan pada Pak De Kantin yang hanya berpayungkan terpal di parkiran belakang Unisma. Terima kasih atas pertolongannya. Maaf, aku tak meminta langsung ke sekretariatan kalian semua karena keterbatasan waktu. Aku percaya, dengan tulisan semacam ini akan lebih bersuara dari suaraku jika mendatangi satu persatu kalian semua.
Sekitar pukul 11.50 siang tadi, Unisma diguyur hujan dan kebetulan aku di parkiran memilih ritual ngopi sambil menunggu hujan menjadi gerimis tipis. Ternyata, hujan bercampur angin membuka mataku bahwa kantin yang terlihat baik-baik saja itu akan memberi gelisah saat hujan sedikit arogan. Pak De Kantin (sebutan dariku yang lupa menanyakan nama) terlihat sangat sibuk melindungi warung dan pengunjung. Pertama-tama ia dan istrinya memakai jas hujan. Kemudian membalut stop kontak dengan kresek (demi menghindari konsleting listrik) dan berlari ke sana ke mari mencari kayu untuk memodifikasi sedemikian rupa atapnya agar tak ambruk karena genangan air. Katanya sambil tertawa “Jadi tukang dadakan, Mas”. Sesekali ia gunting (baca: sobek) terpalnya agar genangan air tak tertimbun di atas warung. Sekian kayu terpasang serabutan di atas kami dan sekian sobekan mengucurkan air, ternyata tak cukup melindungi kami dari hujan karena sapuhan angin. Beberapa kali Pak De meminta maaf dan kemakluman kami, mahasiswa yang menyeduh kopinya. “Kantin dalam kapan selesainya, Pak De?” tanyaku penasaran. “Katanya sih 4-5 bulan tapi entahlah mungkin bisa sampai satu semester” jawab Pak De dengan raut muka kecewa.
Ia pun bercerita bahwa mungkin sesegera mungkin diusahakan penutup warung yang lebih baik. Aku pun sarangkan meminta banner ke teman-teman UKM Unisma yang jaraknya hanya sekian meter dari warungnya Pak De. “Yapa yo ngomonge, sungkan karo arek-arek (bagaimana ya bilangnya, sungkan sama anak-anak)?” jawab Pak De, “tapi kemarin-kemarin ada yang janjiin cuma gak tau belum juga dikasih” lanjutnya. “Coba nanti tak ngomong temen-temen, Pak De siapa tahu ada banner nganggur” sahutku sebelum meninggalkan warung yang dulunya ada di kantin tengah dan menyaksikan cerita-cerita mahasiswa dari sekian tahun angkatan sebelum kita-kita.
Terima kasih untuk siapa saja yang sudah berfikiran memberi Pak De banner seperti yang diceritakan Pak De dan terima kasih untuk siapa saja yang setelah membaca tulisan ini berkenan memberikan banner atau semacamnya untuk modifikasi warung Pak De. Mungkin bagi sebagian kita, inventaris banner sangat penting tapi mungkin tidak kalah pentingnya mengingat Pak De membutuhkan banner untuk warungnya. Terima kasih siapa saja yang mau membaca, membantu menyampaikan tulisan ini pada aktivis Unisma, dan membantu doa.  

Jumat, 14 Oktober 2016

BUKAN UNTUK TETAPI TENTANG NUSRON WAHID




:tulisan ini hanya realitas belaka, jika ada nama tokoh dan tempat yang sama tentu bukan suatau kebetulan.

Aku tidak punya TV di tempat rantauhan tapi aku punya hati untuk sekedar melihat realita meski dengan kadar keterlambatan. Aku teringat kata Nusron Wahid dalam acara ILC dulu, “Kita orang Indonesia yang beragama islam bukan orang islam yang ada di Indonesia”. Kalimat tersebut disampaikan dengan gaya khasnya yang agak tegang seperti orang marah meski mungkin memang marah tapi tetap kuduga semua itu bagian dari gayanya bukan wujud amarah. Aku tak berniat ketemu Nusron Wahid sama sekali, aku hanya sedang mencari tentang FPI sebab saat itu, acara diskusi kami dibubarkan orang-orang tak dikenal, sebagian berpakaian preman sebagian memakai putih-putih seperti ciri FPI. Padahal, kami melaksanakan diskusi ilmuan yang diadakan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Malang) dengan tema Merawat Ingatan Marxisme dan Kekerasan 65. Sayangnya, tulisanku tidak berbicara tentang diskusi itu, tetapi kembali pada Nusron Wahid.
ILC kala itu membahas demonstrasi yang dilakukan FPI yang berujung ricuh dengan aparat. FPI menyarakan penolakan terhada Ahok atas nama agama. Dengat kata lain, FPI tak mau Jakarta dipimpin oleh manusia non-muslim. Maka, kalimat Nusron Wahid di atas sebenarnya lebih dari cukup untuk memberikan tamparan kita bahwa ini Indonesia, negara pancasila! Sekarang bumi Indonesia ramai lagi dengan sesuatu yang hampir sama, Ahok dan Islam dan kali ini bukanlagi dengan FPI melainkan MUI. Ironis memang, perselisihan atas nama agama. Obrolan ILC kali ini membahas kalimat Ahok yang katanya menghina agama islam, alquran, ahli tafsir prihal surat al-maidah dalam alquran. Perwakilan MUI yang notabennya ulama pun terlihat emosional dalam menyampaikan pendapat hasil rapat dan (mungkin) pribadi. Bahkan ia pun sampaikan hokum islam meski tidak dengan tuntutan yakni di antaranya adalah diusir dari Negara dan bahkan dihukum mati. Barangkali kalimat-kalimat dari MUI lah yang juga menular pada emosional Nusron Wahid yang akhirnya menegaskan bahwa segala teks itu bebas makna termasuk alqur’an dan yang paling paham tafsir surat almaidah adalah Allah dan Rasulullah bukan MUI atau siapapun.
Asik, ada sedikit kelucuan bagiku pribadi sebab atmosfer terasa panas meski aku meraba hanya dari intonasi dan mimik wajah para peserta ILC. Aku teringat tulisanku tentang setan yang terbuat dari api yang termasuk bagian dari unsur dalam diri manusia baik pada versi empat unsur; tanah, air, api, dan angin atau pun versi Pancamahabuta yakni lima unsur yang ketambahan unsur ruang. Artinya, kita berpotensi jadi setan itu sendiri dan tak seharusnya terus-terusan menyalahkan setan atas kelalaian kita. Aku katakana lucu karena Nusron berbicara tentang ilmu tafsir dan MUI berbicara tentang ilmu fiqih dan berdebat menanggapi Ahok yang berbicara ilmu politik. Ini sama halnya seperti temanku yang mengajak berbicara prihal Tuhan tapi ia berbicara tentang agama dan menjurus ke fiqih bukan tauhid.
Setelah lahir kalimat tandingan untuk MUI tersebut, Nusron Wahid panen kalimat yang bermakna sindiran, cacian, dan barangkali pujian. Gus Dur pernah mengatakan, semua agama menyampaikan pesan damai tetapi kaum ekstrimis memutarbalikannya. Dari kalimat itu, kita mundur lagi pada sejarah Majapahit, versi Damar Shashangka, bahwa saat kaum islam putihan dipimpin Raden Fatah yakni pihak Sunan Giri berhasil meruntuhkan Majapahit, Raden Fatah mendatangi janda atau Nyai Ampel dan mengabarkan berita penting tersebut. Bukannya senang atas pencapaian islam, Nyai malahan marah dan berpendapat bahwa Raden Fatah sangat bersalah yakni salah karena melawan pemimpin resmi Negara, melanggar wasiat Sunan Ampel yang melarang menyerang Majapahit seperti yang dilakukan Giri Kedaton yakni kelompok islam putihan yang bersebrangan pendapat dengan islam abangan seperti Sunan Kalijaga dan Siti Jenar, dan salah karena menyerang dan mengusir ayahnya sendiri yakni Brawijaya V.
Pendapat Nusron Wahid sangat menarik yang mengajak manusia islam di Indonesia berfikir merdeka akan makna. Senada dengan itu, aku pernah menyampaikan dalam forum RAB (Rumah Anak Bangsa) di Pare saat seorang teman yang hafal alquran menanyakan makna ayat yang berhubungan dengan tema perempuan “Alqur’an bukan milik orang islam, Injil bukan milik orang Kristen, begitupun kitab lainnya Taurat, Zabur dsb. bukan milik golongan tetapi milik siapa saja yang mau membaca dan memaknainya.” Kita pun mengingat Kartini yang dalam suratnya bercerita bahwa dirinya tidak mau membaca alqur’an karena dilarang memahami (pada masa itu memang Belanda hanya mengizinkan membaca).
Di lain kata, Gus Mus berpesan dengan bijak, “Kalau tidak mengerti politik, mbok sudah, rela saja tidak usah berpolitik, daripada membawa-bawa agama.” Ironis memang saat kaum agamis berpolitik dengan ilmu agama. Lucu bukan? Meski bukan lelucon! Lagi, kata Gus Mus, “ada yang sibuk memperdebatkan ibadah sampai lupa beribadah”. Selamat menunaikan ibadah apa saja atau sama denganku, beraksara dan berpuisi.

(hanya tulisan iseng, jangan dianggap serius nanti sakit hati sebab obatnya susah dicari)